top of page

Homeschool

Mengapa kami memilih Homeschooling?

 

Kami adalah keluarga Franco-Indonesia yang berbasis di Indonesia. Kedua anak kami, Yael dan Noa, sempat mengenyam 3 tahun bersekolah di Sekolah Perancis di tengah lingkungan berbahasa Perancis dan Inggris. Keduanya kini trilingual, lancar berbahasa Perancis, Inggris dan Indonesia.

 

Sekolah di sekolah berbasis kurikulum Perancis tentu ada suka dukanya. Dukanya yaitu: ada beberapa poin yang kurang kami setujui, misalnya; diperbolehkannya merokok di lingkungan sekolah (dari mulai orang tua murid sampai ke anak-anak remajanya bahkan di sekitar area playground anak-anak balita); jauhnya jarak sekolah dari tempat kami tinggal (1-1 ½ jam perjalanan, one way, per hari total bisa sampai 3 jam ditengah macetnya Jakarta); kurangnya disiplin nilai-nilai kesopanan yang kami anggap penting dan juga standar pendidikan yang kami rasa semakin merosot.

 

Positifnya, tentu, lingkungan ini sangat kondusif untuk kemajuan anak kami dalam berbahasa Perancis dan Inggris, mereka juga punya teman-teman dari berbagai macam negara dan akibatnya mereka ikut belajar dan menghargai kebudayaan negara lain, saya juga menghargai azas pendidikannya yang sekuler.

 

Namun apa daya, lama-kelamaan macetnya Jakarta bertambah tidak karuan, dan kedua anak kami pun semakin uring-uringan setiap pulang sekolah. Saya pun ikut stress setiap kali menjemput mereka dari sekolah, kami selalu terburu-buru pulang supaya tidak terjebak macet. Akibatnya, waktu mereka bersosialisasi dengan teman-teman sepulang sekolah menjadi berkurang. Di sore hari mereka sudah terlalu stress dan lelah sehingga tidak ada lagi keinginan untuk mempunyai aktifitas lain. Padahal kami ingin agar mereka mempunyai waktu lebih untuk berolah raga atau mengikuti les ketrampilan lain. Suami pun merasa tidak puas karena berkurangnya waktu yang dapat ia habiskan bersama keluarga. Intinya, kami tidak ingin kehilangan masa-masa emas pertumbuhan kedua anak kami, karena waktu yang hilang tidak akan dapat kita peroleh lagi.

 

Akhirnya, suami saya pun mencetuskan sebuah ide brilian. Homeschooling! Ya, homeschooling. Kenapa tidak? Saya pikir. Toh, saya juga seorang guru. Lalu mulailah kami melakukan riset besar-besaran. Dari mulai dampak positif sampai dampak negatifnya, legalitasnya, kurikulum serta materi belajarnya dan lain-lain. Dua kendala terbesar adalah kurikulum dan sosialisasi. Kami tetap menginginkan kurikulum berbasis Bahasa Perancis (tuntutan suami) dan saya ingin mereka tetap belajar berbahasa Inggris. Untungnya sekarang kita hidup di jaman serba online dan dunia internet itu bagai hadiah undian sejuta dolar, kami pun menemukan kurikulum Belgia yang tentunya berbasis Bahasa Perancis.

 

 

"Homeschooling! Ya, homeschooling. Kenapa tidak? Saya pikir. Toh, saya juga seorang guru." 

 

 

Materi pelajaran dikirimkan lewat pos, lalu PR dan latihan harus dikirimkan kembali agar dapat dikoreksi di Belgia sana. Dan semua ini untuk biaya 37,40 Euro saja. Dibayarkan sekali dimuka dan berlaku hingga mereka selesai SMA. Untuk materi-materi pelajaran yang berbahasa inggris, saya dapatkan dengan mudah di internet, gratis pula.

 

Agar mereka tetap dapat bersosialisi dengan manusia lain (yang seumur maupun yang tidak seumur dengan mereka), kami pun sibuk mencari-cari kegiatan luar sekolah. Akhirnya pilihan kami pun jatuh ke The Gym. Yael dan Noa senang sekali beraktifitas disana. Setiap sore mereka menghabiskan 2-3 jam waktunya disana. Dari Capoeira sampai Balet, dijajal semua.

 

Kurang dari 2 minggu mereka menjalani rutinitas homeschooling ini – belajar dengan suami selama 2 jam sebelum ia berangkat kerja di pagi hari, lalu lanjut dengan saya sampai jam 12 (tentu ada 2x waktu istirahat dan makan siang diantaranya), ditambah dengan kelas percakapan dengan Kakek mereka yang berdomisili di Perancis lewat Skype, kemudian lanjut beraktifitas di luar rumah – Yael dan Noa menunjukkan perbedaan kelakuan dan kemajuan akademik yang drastis. Orangtua saya pun bilang kalau mereka jadi lebih periang, karena biasanya si Oma atau si Opa bertemu Yael dan Noa sepulang sekolah di saat mereka sedang lelah dan uring-uringan.

 

Tantangan terbesar, tentunya ada di disiplin dan bagaimana mempertahankannya.  

 

Aspirasi kami dalam memberanikan diri untuk menjalankan homeschooling ini adalah keinginan untuk membentuk kedua anak kami menjadi dua pribadi yang mantap, percaya diri dan tidak merugikan masyarakat bahkan dapat berguna bagi orang-orang  disekitarnya dengan memberikan mereka pendidikan yang terbaik di tengah lingkungan yang kondusif dan positif agar mereka dapat mempunyai kehidupan yang aktif dalam pertalian kekeluargaan yang erat.

 

Blog di website ini berlaku sebagai jurnal kami, suka duka kami dalam melalui pengalaman ini. Kami harap bisa juga bermanfaat bagi keluarga lain yang juga mengambil keputusan yang sama atau bagi kalian yang tertarik untuk menjalani homeschooling. 

 

Enjoy :)

 

© 2023 by Mums Tums and babies. Proudly created with Wix.com

bottom of page