Chores Chart dan Behaviour Chart
- Sep 9, 2015
- 3 min read
Aturan pertama yang perlu diikuti untuk dapat berhasil menjalankan homeschooling adalah berdisiplin. Anak-anak (dan orangtua) perlu tahu bahwa walaupun berada dalam setting yang tidak konvensional – dalam hal ini, di rumah sendiri – kegiatan belajar mengajar harus tetap dijalankan mengikuti suatu aturan tertentu. Entah bagaimana dengan orang lain, saya terlanjur merasa malas kalau sudah berada di rumah yang nyaman. Banyak keluarga lain yang dapat menjalankan konsep homeschooling ini tanpa kendala, namun buat saya, disiplin menjadi tantangan yang paling berat. Artinya, waktu belajar adalah waktu belajar. Anak-anak, terutama yang masih berumur muda, tentunya akan berusaha untuk menghindar dari tugas dan ingin bermain-main saja. Terserah orang tua untuk dapat menyiasati waktu dan jadwal, sehingga waktu belajar tidak terasa membosankan.
Kami meluangkan banyak waktu untuk menyusun jadwal yang baik, yang terorganisasi dengan rapih dan dengan flow yang baik. Ini tentunya salah satu poin positif dalam menjalankan homeschooling, yaitu keleluasaan kita dalam menyusun jadwal belajar dan mata pelajaran serta aplikasi yang menarik dan dalam waktu yang bersamaan juga mendidik untuk anak kita.
Buat kami, penting sekali bagi anak-anak kami untuk tidak hanya berhasil dalam mata pelajaran akademik, tetapi juga dalam keahlian menjalani hidup sehari-hari. Untuk itu, kami memastikan agar belajar memasak, belajar bersih-bersih dan mengatur rumah tangga juga merupakan bagian dari pendidikan anak-anak kami.
Buat Yael dan Noa (dan juga saya tentunya) yang sudah terbiasa hidup dengan dibantu oleh asisten rumah tangga, hal ini merupakan bagian yang menantang. Untungnya, Yael dan Noa terbiasa untuk mengurus diri sendiri karena mereka sudah terbiasa mandiri.
Masing-masing diberikan tugas atau chore di rumah. Misalnya, tugas Yael adalah mencuci piring – kami berikan dia tugas ini karena dia lebih besar dibandingkan Noa, walaupun pada akhirnya terbukti kalau Noa lebih bagus menjalankan tugas ini daripada Yael :) Tugas Noa adalah membereskan sepatu dan sandal dan mengaturnya di atas rak sepatu.
Keduanya juga punya tugas komunal yaitu membereskan tempat tidur, mainan, buku dan pakaian masing-masing. Membiasakan mereka untuk berdisiplin tentang kebiasaan ini pada mulanya tidak terlalu berjalan lancar. Ada saja alasan mereka untuk menunda menyelesaikan tugasnya. Lalu saya coba memakai Chores Chart untuk mereka.

Tabel ini kami buat bersama, masing-masing memilih ikon yang ingin mereka pakai sebagai lambang setiap tugas. Setelah selesai, tabel ini kami cetak, kami laminasi lalu kami tempel di dinding. Setiap kali Yael atau Noa selesai mengerjakan tugasnya, saya akan menempelkan mata boneka di kolomnya sebagai tanda kalau tugas itu sudah selesai. Untungnya ini menjadi motivasi yang bagus sekali, Yael dan Noa berlomba-lomba untuk menyelesaikan chore apapun demi mendapat mata boneka di kolom mereka. Bahkan kadang, tugas orang lain pun diserobot supaya bisa dapat mata boneka lebih banyak :)
Tentu saja ada hari-hari dimana mereka membutuhkan motivasi lebih dari mata-mata boneka. Untuk menyiasati ini, saya buatkan mereka karcis priviledge misalnya; 5 mata boneka = waktu ekstra untuk menonton televisi.
Sebagai penunjang berjalannya hari mereka dengan teratur dan juga untuk memastikan kelakuan mereka tetap terjaga, saya juga menggunakan Behaviour Chart.

Setiap harinya, Yael dan Noa mulai dari baris hijau “Ready to Listen”- dilambangkan dengan jepitan berbeda pada masing-masing sisi kanan dan kiri, satu untuk Yael dan satu untuk Noa. Jepitan ini dapat dipindah ke atas atau ke bawah sesuai dengan kelakuan dan kesediaan mereka dalam mendengarkan, menjalankan tugas dan menyelesaikan materi belajar mereka. Misalnya; bila mereka selesai mengerjakan suatu tugas dengan baik pindahkan jepitan ke “Good Day”, bila mereka berteriak atau berkelakuan tidak pantas pindahkan jepitan ke bawah. Kelakuan tidak pantas atau tidak baik yang berulang akan membuat mereka kehilangan priviledgenya (buat Yael dan Noa priviledge adalah waktu untuk menonton televisi, membaca buku ekstra, waktu bermain lebih banyak atau makanan spesial seperti coklat).
Tabel-tabel di atas bisa sangat membantu dalam menjalankan tugas dan kegiatan belajar sehari-hari. Dengan catatan, kita juga harus konsisten dalam memberikan mereka reward untuk kelakuan baik mereka ataupun konsekuensi dari kelakuan buruk mereka. Banyak dari kita yang mengancam untuk memberikan konsekuensi atau menjanjikan reward kepada anak tetapi pada akhirnya tidak dijalankan sebagaimana mestinya. Hal ini harus dihindari karena si anak akan belajar dari ketidak konsistenan kita sehingga mereka tidak lagi patuh dan menganggap serius peraturan yang kita terapkan.
Patut diingat, seorang anak akan belajar dari mencontoh kebiasaan orang tuanya. Jadi, agar anak tetap patuh pada peraturan yang kita terapkan, kita juga harus konsekuen dalam mengikuti peraturan tersebut. Bila tidak, kita akan mengirimkan sinyal rancu kepada anak. Buat kami sekeluarga, pengalaman ini adalah pembelajaran yang sangat membuka mata dan juga menjaga kami selaku orang tua untuk tetap rendah hati dan terbuka dalam melatih diri sendiri untuk lebih bersabar dan introspeksi diri.
Susah yaaaa, tapi memuaskan deh, kalau berhasil :)


































Comments